Sang Pemimpi (Cetakan Keduapuluh empat November 2008) :
Bagi Ikal dan Arai, kemiskinan boleh mengambil
segalanya, kecuali satu: mimpi. Mereka letakkan mimpi
setinggi-tingginya. Dua anak kuli timah itu mencurahkan segenap tenaga.
Meskipun demikian, manisnya hidup tak boleh lalai dilewatkan. Di sela
kesibukan belajar di sekolah menengah, selalu saja ada celah untuk
menikmati masa remaja. Mencuri-curi waktu menonton bioskop, mengejar
cinta pertama, adalah sekian dari kisah mereka.
Namun, satu hal tak pernah terlupa, impian yang telah lama bersemayam dalam diri.
Namun, satu hal tak pernah terlupa, impian yang telah lama bersemayam dalam diri.
Edensor (Cetakan Kesembilan belas November 2008) :
Aku ingin mendaki puncak tantangan, menerjang batu granit kesulitan,
menggoda mara bahaya, dan memecahkan misteri dengan sains. Aku ingin
menghirup berupa-rupa pengalaman lalu terjun bebas menyelami labirin
lika-liku hidup yang ujungnya tak dapat disangka. Aku mendamba kehidupan
dengan kemungkinan-kemungkinan yang bereaksi satu sama lain seperti
benturan molekul uranium: meletup tak terduga-duga, menyerap, mengikat,
mengganda, berkembang, terurai, dan berpencar ke arah yang mengejutkan.
Aku ingin ke tempat-tempat yang jauh, menjumpai beragam bahasa dan
orang-orang asing. Aku ingin berkelana, menemukan arahku dengan membaca
bintang gemintang. Aku ingin mengarungi padang dan gurun-gurun, ingin
melepuh terbakar matahari, limbung dihantam angin, dan menciut
dicengkeram dingin. Aku ingin kehidupan yang menggetarkan, penuh dengan
penaklukan. Aku ingin hidup! Ingin merasakan sari pati hidup!
Maryamah Karpov (Cetakan Keempat Desember 2008) :
Jika dulu aku tak menegakkan sumpah untuk
sekolah setinggi-tingginya demi martabat ayahku, aku dapat melihat
diriku dengan terang sore ini: sedang berdiri dengan tubuh hitam kumal,
yang kelihatan hanya mataku, memegang sekop menghadapi gunungan timah,
mengumpulkan napas, menghela tenaga, mencedokinya dari pukul delapan
pagi sampai magrib, menggantikan tugas ayahku, yang dulu menggantikan
tugas ayahnya. Aku menolak semua itu! Aku menolak perlakuan buruk nasib
pada ayahku dan pada kaumku. Kini Tuhan telah memeluk mimpiku. Atas nama
harkat kaumku, martabat ayahku, kurasakan dalam aliran darahku saat
nasib membuktikan sifatnya yang hakiki bahwa ia akan memihak kepada para
pemberani.

No comments:
Post a Comment